Rabu, 16 September 2009

One Day,One Dream


Pertanyaan itu semakin sering saya ulang akhir-akhir ini,setelah keputusan besar ini direalisasikan..keputusan untuk berdiri sendiri,keputusan untuk mencoba lebih memberikan kontribusi kepada lingkungan terkecil saya.Pertanyaan itu adalah "seberapa besar keyakinan kita bahwa rezeki itu datangnya dari Yang Maha Memberi Rizqi???" bahwa kantor,perusahaan,perniagaan hanya sebagai wasilah atau jembatan yang menghantarkan rizqi tersebut kepada kita.Pertanyaan ini menjadi semakin penting dijawab berkaitan dengan keimanan dan belief kita tentang sudut pandang datangnya kekayaan dan mengasah mental kewirausahaan.
Berapa banyak orang yang sekian tahun,belasan ataupun mungkin puluhan tahun bekerja pada perusahaan yang sama,dengan karir yang itu-itu saja tanpa ada pengembangan diri dan kesempatan untuk aktualisasi diri tidak berani memutuskan untuk "mengeluarkan" dirinya kepada kondisi yang lebih baik.Salah satu faktor penyebabnya adalah tentang jawaban terhadap pertanyaan diatas selain juga karena merasa dan memilih bahwa keadaan dirinya dalam kubangan keterlanjuran dan pola pikir sempit bahwa dirinya tidak memiliki pilihan lagi.
Seandainya anda adalah seorang anak kecil yang berada diatas lemari tanpa ada tangga turun,kemudian ayah anda meminta anda melompat dengan keyakinan bahwa ayah anda akan menangkap anda yang melompat dari atas lemari tersebut,kira-kira apa yang akan anda lakukan....?Begitu juga dengan pilihan kita ketika mungkin anda merasa karier anda mengalami stagnasi,aktualisasi diri anda terhambat,kondisi perusahaan anda sudah tidak membuat anda tersenyum ketika berangkat kerja merupakan pada hakikatnya adalah sebuah kesempatan yang di berikan Yang Maha Memberi Rizqi untuk anda melompat ke tempat yang lebih baik.Memang tidak mudah pada awalnya,tentang kesiapan mental,lingkungan terdekat,masalah teknis nantinya seperti apa dan yang paling penting adalah keyakinan anda,apakah mampu mengatasi keragu-raguan terhadap pilihan anda.
Belajarlah kepada orang tionghoa yang meyakini bahwa yang namanya takdir adalah apakah anda dilahirkan laki-laki atau perempuan,siapa orang tua kita dan kapan dan dimana nanti kita mati,selebihnya dalah pilihan.Tetapi terhadap 3 hal itu pun kita masih memiliki pilihan,pilihan bagaimana sikap kita menghadapi kondisi yang ditakdirkan kepada kita.Terakhir mungkin mengutip pernyataan dari Donald Trumph "Ketika anda dilahirkan miskin,anda tidak bisa disalahkan...,Tetapi ketika anda meninggal dalam keadaan miskin,maka anda layak dipersalahkan"

One Day One Dream
Mari bersama mengejar semua impian

Kamis, 10 September 2009

Final Countdown...


Aku melihatnya,sebuah tulisan yang mampu membuatku terinspirasi,dapat ilham bahasa kerennya.Tulisan itu terdapat pada sebuah mobil container baru yang melaju di atas jalan tol,dengan kalimat seperti ini "Works it's not a place,It's An Activity".
Ditengah badai resesi yang menyebabkan banyak orang kehilangan pekerjaan,atau berubah status menjadi pengangguran,inflasi yang cukup tinggi ditambah lagi kenaikan serta kelangkaan beberapa bahan pokok,setidaknya kalimat ini cukup memberikan kekuatan bagi kita yang kehilangan pekerjaan.
Mungkin agak susah bagi kita yang cenderung dibesarkan oleh pola pikir bahwa bekerja itu adalah disebuah perusahaan,company,pabrik atau apalah namanya yang mencerminkan bentuk komunal yang memberikan slip gaji dan tunjangan hari raya.Tidak termasuk didalam kamus kata bekerja bagi orang yang berdagang ayam dipasar,tukal tempe keliling atau mba jamu gendong yang mungkin setiap hari bersliweran mendistribusikan rupiah demi rupiah.
Belum ditambah lagi doktrin orang tua kita dulu(untungnya saya tidak termasuk orang yang pernah di doktrin) untuk menjadi Pegawai Negeri dengan iming-iming gaji yang lumayan,dapat jatah beras dan masa tua terjamin(kurang apa lagi coba),walau tanggung jawab dan pertanggungjawabannya nanti menurut saya amat berat.Sehingga banyak diantara kita berbondong-bondong ketika dibukanya lowongan di sebuah departemen,mungkin sampai mengandalkan koneksi,tak jarang memakai hal-hal diluar logika untuk mencapainya.
Mungkin saat ini banyak orang tua yang sudah mulai sadar untuk mendidik anaknya untuk mandiri dan mampu mengelola finansial sejak dini,bisa kita lihat dengan adanya lembaga seperti Bizz For Kids,Young Bizz dan sebagainya.
Mungkin bagi rekan-rekan yang terkena badai resesi inilah saat nya mengasah intuisi bisnis anda,karena jiwa bisnis mungkin lahir ketika terpepet,disaat kita harus survive menjaga agar dapur tetap ngebul,agar si buyung tetap sekolah,agar martabat keluarga kita tetap terjaga dimata masyarakat.Saatnya kita merubah pola pikir kita bahwa yang terpenting adalah tetap bekerja bukan bekerja tetap...